Beberapa Faedah tentang Sholat ketika Hujan

Ada pertanyaan dari ikhwan dijawab oleh al Ustadz Abdurrahman Dani Sihr Yaman

Bismillah, Ustadz -hafizhokallaahu-

✏ Tanya:

Kalau pas waktu sholat turun hujan, setelah adzan selesai ana langsung sholat di rumah, pas ana udah selesai sholat tiba-tiba hujan berhenti dan kemungkinan besar di masjid belum iqomah. Apa ana harus ke masjid atau tidak usah karna sudah sholat di rumah? Jazakallahu khairan

Jawab:

{ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ :{ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣِﻦْ ﺣَﺮَﺝٍ

Artinya: “Dan Dia tidaklah menjadikan bagi kalian kesulitan dalam agama”.

{ﻭﻗـﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ : { لَا ﻳُﻜَﻠِّﻒُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ إِلَّا ﻭُﺳْﻌَﻬَﺎ

Artinya: “Allah tidak membebani sseeorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

Termasuk perkara maklum bahwa hujan adalah salah satu sebab udzur seseorang untuk tidak shalat berjama’ah di masjid. Sebagai telah tsabit hadits:

ﺻﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺭﺣﺎﻟﻜﻢ

Artinya:  “Shalatlah di tempat tinggal kalian”.

Yang diucapkan ketika adzan.Dan udzur itu sendiri bertingkat-tingkat menjadi tiga; berat, sedang dan ringan.Udzur dari hujan yang bagaimana yang termasuk udzur yang menjatuhkan hukum wajib jama’ah di masjid?

Para ulama menjadikan tolok ukurnya adalah hujan yang membikin baju basah, jalanan becek dan licin dan perkara lain yang membahayakan.

Adapun hujan ringan/gerimis adalah termasuk udzur ringan yang tidak menjatuhkan hukum shalat jama’ah di masjid. Dan barang siapa yang meninggalkan jama’ah karena udzur ringan ini maka dia telah berdosa meninggalkan jama’ahnya.

Adapun jika seseorang sudah shalat di rumahnya karena hujan deras dan ternyata saat shalat ditegakkan di masjid berjama’ah sudah tidak ada hujan maka apa yang perlu dilakukan?

↪ Tidak ada kewajiban bagi dia untuk mengulanginya, akan tetapi jika dikhawatirkan fitnah seperti tetangga atau familinya dia yang ada dalam rumah maka alangkah baiknya shalat lagi di masjid sebagai shalat nafilah.

Wallahu a’lam.

✏ Bismillah, ada pertanyaan dari ikhwan dijawab Ustadz Muhammad Sholehudin Karawang

Wallohu a’lam ana lupa nama salah seorang Shahabat Nabi yang pernah melakukan sholat, setelah sholat fardhu berjama’ah bersama Nabi kemudian beliau pulang kepada kaumnya dan mengimami sholat.

Baca lebih lanjut

Waktu Sholat Dhuha

Permulaan: 15 menit setelah terbit matahari atau pada saat matahari naik seukuran tombak (asy-Syarhul Mumti’ karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah  (4/162))

Berakhir : Pada saat matahari tepat di tengah langit. Sekitar 15 menit atau 20 menit sebelum Dzhuhur (Fataawa Syaikh Bin Baz (11/286)). Sedangkan Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah berpendapat 10 menit sebelum Dzhuhur (Fataawa Nuurun alad Darb (163/1)

Itu adalah rentang waktu bolehnya melakukan sholat Dhuha.

Sedangkan waktu yang paling utama adalah ‘pada saat anak unta bangun dari pembaringannya karena panas’ sebagaimana hadits riwayat Muslim. Waktu itu menurut Syaikh Ibnu ‘Utsamin rahimahullah adalah sekitar 30 atau 45 menit sebelum Dzhuhur (Fataawa Nuurun alad Darb (163/1))

__________________________

WA al-I’tishom – Probolinggo (dengan sedikit editing penulisan)

Kewajiban Atas Persendian Kita

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

كُلُّ سُلاَمَى عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ…

“Setiap persendian manusia ada kewajiban bershadaqah setiap harinya…”

(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Para pembaca rahimakumullah, Maha suci dan Maha Besar Allah ‘Azza wa jalla yang telah menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan struktur yang penuh kesempurnaan.Termasuk di dalamnya manusia.Allah ‘Azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (at-Tiin: 4).

 Di antara nikmat terbesar yang manusia dapatkan adalah keteraturan struktur dan bentuk tubuh. Lihatlah bagaimana Allah ‘Azza wa jalla menciptakan tubuh tersebut yang terbentuk dari susunan tulang belulang dan persendian dengan rapi dan teratur, yang tidak ada satu makhluk pun yang mampu menyamai ciptaanNya yang satu ini. Bermula dari saripati tanah lalu berubah menjadi makhluk yang mengagumkan. Lihatlah firmanNya,“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mukminun: 12-14).

Ketahuilah, tidaklah Allah ‘Azza wa jalla menyebutkan berbagai nikmat tersebut, terkhusus nikmat yang ada pada tubuh kita, melainkan untuk mengingatkan kembali akan kewajiban kita untuk mensyukuri itu semua. Bahwa tidak ada satupun di antara kita yang tidak diberi nikmat dan lepas dari pengasuhan al-Razzaq, maka bersyukurlah!!.

Baca lebih lanjut

Berlomba dalam Kebaikan

Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,

“Wahai anak Adam, jika engkau melihat manusia berada dalam sebuah kebaikan, saingilah mereka. Namun, jika engkau melihatnya berada padasebuah kebinasaan, janganlah engkau menyaingi mereka dan pilihan mereka.”

“Sungguh, kami telah melihat beberapa kaum lebih memilih bagian mereka yang disegerakan (di dunia) daripada yang diakhirkan (di akhirat). Akhirnya, mereka menjadi hina, binasa, dan terkenal (keburukannya).”

Beliau mengatakan rahimahumallah pula,

“Barang siapa yang berlomba denganmu dalam hal agama, saingilah dia. Adapun orang yang menyaingimu dalam hal duniamu, lemparkanlah urusan dunia itu ke lehernya.”

Beliau mengatakan rahimahumallah pula,

“Apabila engkau melihat manusia menyaingimu dalam hal dunia, saingilah mereka dalam hal akhirat. Sungguh, dunia mereka akan hilang dan akhirat akan kekal.” (Mawa’izh al-Imam al-Hasan al-Bashri, hlm. 57—58)

Sumber : www.asysyariah.com | Rubrik : Permata Salaf

Larangan Isbal (Menjulurkan Pakaian Di bawah Mata Kaki)

oleh : Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Lelaki tidak diperbolehkan melakukan isbal dalam berpakaian. Isbal adalah menjulurkan atau memanjangkan kain, baju, sarung, celana, jubah, atau semisalnya di bawah mata kaki. Pendapat yang rajih (kuat) adalah semata-mata isbal hukumnya haram, diancam dengan neraka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

“Sarung yang di bawah kedua mata kaki maka tempatnya di neraka.” (HR. al-Bukhari no. 5785)

Apabila dia isbal disertai dengan kesombongan, ancamannya lebih keras lagi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاََ يَنْظُرُ ا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

“Pada hari kiamat nanti, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan melihat seseorang yang menjulurkan sarungnya karena sombong.” (HR. al-Bukhari no. 5785 dan Muslim no. 2087)

Isbal itu sendiri sudah menunjukkan kesombongan, sebagaimana disebutkan oleh hadits Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ ا لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ

“ Angkat sarung mu hingga pertengahan betis. Apabila engkau enggan, sampai (atas) mata kaki. Waspadalah engkau dari isbal sarung, karena hal itu adalah kesombongan, dan Allah Subhanahu wata’ala tidak menyukai kesombongan.” (Shahih lighairihi, HR. Abu Dawud no. 4084 dan Ahmad 5/63)

Baca lebih lanjut